Why do we tend to focus more on the negatives, rather than the positives?

Admit it, we all are.

Akhirnya saya menulis kembali, setelah hampir dua bulan dari pos pertama saya di bulan Maret lalu. Siang bolong hari ini saya tiba-tiba terpikir pada sebuah pertanyaan:

“Kenapa sih, saya, dan mungkin juga banyak orang di luar sana, lebih terfokus dan memusingkan hal-hal negatif daripada hal-hal positif dari sesuatu atau seseorang? Apakah hal-hal positif di hidup kita, di keseharian kita benar-benar sesedikit itu? Atau, ada sesuatu dalam cara berpikir kita yang membuat kita lebih fokus pada hal negatif daripada hal positif?”

Yakin deh, mungkin pada saat tulisan ini dibaca orang lain, gak sedikit ada perasaan denial seperti, “Ah, nggak juga. Saya nggak begitu.” Atau, penolakan dengan dasar bahwa orang yang kebanyakan fokus sama hal-hal negatif cuma orang-orang yang gampang cemas aja.

Sebagai contoh, tahun 2020 bukan tahun yang baik buat saya dan mungkin bukan juga buat kebanyakan orang. Pandemi Covid-19 yang mengglobal, serta pembatasan interaksi dengan orang lain seperti menciptakan “kerangkeng” bagi banyak orang. Kemudian banyak rencana terpaksa harus mundur, berubah, atau dibatalkan. Banyak ide dan pikiran seperti mandek dan tidak berjalan. Mungkin gak sedikit juga ada perasaan kehilangan arah, motivasi, atau tujuan. Lantas, semua orang kemudian menilai tahun itu adalah tahun yang buruk.

Padahal kalau kita coba renungkan lagi, di balik semua keburukan tersebut masih ada hal-hal baik yang menyertai: untuk tetap dapat tinggal dan bekerja dari rumah, misalnya. Atau, untuk tetap berada di rumah dengan keluarga yang komplit dan sehat, tetap memiliki penghasilan dan dapat berkarya. Kesemua hal itu kan sebenarnya hal-hal baik, yang bahkan tanpa kita sadari sebenarnya merupakan privilese.

Tapi, jangan dikira saya nggak begitu, ya. Penulisan ini justru didasarkan pada pemikiran saya atas diri saya sendiri yang juga merasakan hal yang sama seperti itu: mandek, patah, kehilangan arah selama pandemi, untuk kemudian merasa menemukan dan melanjutkan lagi, selama berulang-ulang kali layaknya sebuah siklus. Sialnya, setiap kali merasa begitu, saya justru lebih terfokus dan banyak memikirkan keburukan yang dibawa pandemi ini.

Maka, di siang bolong ini juga kekepoan saya itu saya cari di internet: “Why people tend to focus on the bad things?”. Dari sekian banyaknya jawaban yang muncul, ada satu teori yang menarik buat saya dan membahas tentang ini secara spesifik. Teori itu bernama “Negativity Bias”.

Teori “Negativity Bias”

Pada prinsipnya, teori ini menyatakan bahwa dalam kebanyakan situasi, peristiwa negatif lebih menonjol, kuat, dominan dalam kombinasi, dan umumnya lebih efektif daripada peristiwa positif (Rozin & Royzmann, 2001). Bahkan, pada satu waktu bersamaan dengan hal netral atau positif berintensitas yang sama, hal-hal negatif lebih memiliki efek yang lebih besar pada keadaan dan proses psikologis seseorang.

Rick Hanson, seorang psikolog, pada 2010 mengemukakan bahwa:

“The brain is like Velcro for negative experiences but Teflon for positive experiences.”

Hanson memaparkan bahwa pada saat kita menjalani keseharian, sebagian besar momen dalam hidup kita umumnya bersifat netral atau positif. Masalahnya adalah momen netral atau positif diingat dengan sistem memori standar, yang berarti sebagian besar momen masuk dan keluar. Namun, pengalaman negatif langsung terdaftar dan difokuskan secara intens, berdasarkan bias negatif otak. Pengalaman negatif disimpan dalam apa yang disebut “memori implisit”, yang bukan merupakan memori untuk peristiwa yang dialami, melainkan terhadap perasaan yang dirasakan. Dan bank memori implisit itu akan tertimbun menjadi lebih gelap dan gelap lagi oleh residu pengalaman negatif yang perlahan-lahan menumpuk, sehingga akan lebih banyak tersimpan pengalaman negatif tersebut daripada pengalaman positif.

Namun, apakah “negativity bias” selalu buruk?

Tidak juga, dan tidak selalu. Nyatanya, negativity bias berada pada tingkat psikologis yang sangat dasar. Bahkan negativity bias menjadi salah satu penguatan dan pembelajaran manusia untuk dapat lebih tahan terhadap kepunahan. Melihat pada tingkat fungsi psikologis yang lebih kompleks, negativity bias terdapat dalam setiap penilaian dan pengambilan keputusan orang dewasa. Saat membuat penilaian, orang secara konsisten memberi bobot pada aspek negatif dari suatu peristiwa atau rangsangan lebih berat daripada aspek positif (Vaish, Grossman, & Woodward, 2008).

Dengan demikian, maka negativity bias sebenarnya merupakan suatu hal mendasar pada psikologis dan cara berpikir manusia. Ia memiliki andil bagi banyak tindakan kehidupan. Hanya saja, negativity bias yang tidak dibarengi dengan pengendalian dan pengelolaan yang baik justru dapat menimbulkan kerugian, misalnya pemikiran yang berlarut-larut terhadap hal buruk.

Bagaimana cara mengelola “negativity bias”?

Menurut Rick Hanson pada artikel yang sama, setidaknya ada beberapa hal yang dapat mengatasi negativity bias dalam cara berpikir kita. Pada intinya, manusia perlu secara aktif membangun memoriimplisit positif untuk menyeimbangkan akumulasi memori implisit negatif. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, kecenderungan manusia untuk lebih terfokus pada hal buruk didasarkan pada penyimpanan memori negatif pada memori implisit di otak kita.

Hanson menemukakan setidaknya ada tiga cara yang dapat kita lakukan. Pertama, dengan mengubah peristiwa positif menjadi pengalaman positif. Memori implisit manusia lebih mudah untuk menyimpan dan mengabadikan pengalaman daripada peristiwa. Pada negativity bias, ketika manusia menghadapi hal buruk, otak cenderung lebih terfokus pada pengalaman dan perasaan yang dirasakan daripada peristiwanya. Sehingga mengatasi negativity bias tersebut, diperlukan transformasi peristiwa positif yang dialami manusia menjadi pengalaman positif. Hal ini dapat dilakukan dengan cara lebih terfokus pada perasaan dan dijadikan hal itu sebagai pengalaman, bukan sekadar peristiwa positif yang sekali lewat.

Kedua, menikmati setiap pengalaman dan perasaan positif tersebut. Ketiga, merasakan dengan khidmat dan menjadikan pengalaman positif tersebut meresap dalam diri. Cara ini akan memberikan stimulus lebih kepada neuron-neuron di otak. Hanson memberikan metodenya terkait ini, dengan membuat setiap pengalaman negatif tersebut berada di belakang pemikiran manusia, dan sementara itu kita mengedepankan pengalaman positif kita untuk ditahan selama 10 sampai 30 detik berturut-turut.

Bagi saya sendiri, cara Hanson ini sudah cukup lama saya praktikkan sejak awal pandemi untuk menjaga ‘kewarasan’. Practice mindfulness, istilahnya. Istilah ini mungkin identik dengan hal-hal seperti meditasi dan sejenisnya, tapi bagi saya, practice mindfulness dapat berupa banyak hal lain yang saya senangi dan mendatangkan kesenangan yang bukan hanya sesaat. Bagi saya, mindfulness bisa saya dapati ketika saya jalan pagi sambil menikmati suasana yang ada. Sesekali dibarengi dengan mendengarkan podcast, membawa sebotol makanan kering kucing untuk streetfeeding, atau pulang jalan pagi dengan makanan yang saya sukai. Mindfulness juga bisa saya dapati ketika saya memasak makanan yang saya sukai. Pada intinya, bagi saya, mindfulness saya dapati ketika saya merasa present in the moment dan fokus dengan sangat mengenai apa yang saya rasakan. Uniknya, mindfulness gak saya dapatkan melalui kemewahan atau melalui hal mahal, dan justru sebaliknya — melalui setiap kesederhanaan yang saya lakukan.

Pada intinya, negativity bias merupakan hal yang normal dan bahkan bagian dari psikologis manusia. Bahkan bias tersebut tidak melulu berarti buruk. Namun, tanpa dibarengi dengan pengelolaan yang baik, baik itu melalui meditasi atau cara lainnya, negativity bias justru dapat menguasai pemikiran manusia secara berlebihan.

Sumber rujukan:

Amrisha Vaish, Tobias Grossman, dan Amanda L. Woodward, Not All Emotions Are Created Equal: The Negativity Bias in Development, Psychological Bulletin by the American Psychological Association 2008, Vol. 134, No. 3.

Paul Rozin dan Edward B. Royzmann, Negativity Bias, Negativity Dominance, and Contagion, Personality and Social Psychology Review 2001, Vol. 5, No. 4.

Michael Bergeisen, The Neuroscience of Happiness, 2010.

--

--

I turn my contemplation into writing, sometimes.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store